Oleh: Ningrum | 21 Agustus 2013

Sepatu

Sepatu biru tua itu atau biru dongker bersama sepatu baby blue yang nyaris ke abu-abu itu sudah tampak minta dipensiunkan. Ya maklum, usianya sudah lebih dari lima tahun. Untuk usia sepatu, keduanya sudah terlalu lama bersentuhan dengan panas aspal atau jalanan yang juga tak selalu halus permukaannya, hingga alasnya sudah mulai mengeras dan retak-retak.

Kedua sepatu itu pun memiliki nilai sejarah, sangat berjasa pada saat saya menjadi kuli sebuah perusahaan penerbitan hingga sampai setelahnya. Karena nilai sejarahnya itu, karena juga saya sangat menyukainya maka, saya menundanya untuk mempensiunkannya, hee apalagi yang kombinasi abu favoritku itu yang alasnya sudah tidak aman untuk digunakann. Sepatu yang dulunya berwarna baby blue itu pernah menemani saya beberapa kali mengobrol secara intens dengan “preman” ambulan rumah sakit, sepatu yang juga sering menemai saya piket hingga lewat tengah malam, duduk dikursi hingga tertidur di meja kerja untuk menunggu mobil perusahaan beroprasi sekitar pukul 03.45 pagi, tentu mobil yang surat tugasnya sejalur dengan tempat tinggal saya. Ya, ini hanya sepatu yang kisahnya telah merajut menjadi sejarah, sudah tidak bisa digunakan, apalagi untuk melanjutkan jejak yang bertema sama.

Sepatu

Sedangkan untuk yang biru dongker, sepatu yang nyaman untuk lari, sekarang juga sudah retak-retak bawahnya:alasnya. Sepatu itu masih kerap saya kenakan (padukan) dengan baju gamis casual, *aneh.ya, ndak nyambung*😀 . Kemudian, beberapa waktu lalu saya tetap ngeyel membawanya ke tukang sol sepatu. Maksudnya diperbaiki, tetapi lain hasil lain tujuan, hasilnya tampak lebih ndak karuan, heee, mau komplain kok kasihan, tukang solnya tampak sudah usia lanjut, jadi ya sudahlah. Saya berniat tetap akan menggunakannya sampai memang benar-benar tak dapat digunakan (tak lama lagi sepertinya). Ya walaupun saya sudah memiliki running shoes yang baru, yang sebenarnya bukan pilihan pertama.

Begini ceritanya, ceberapa waktu lalu saya mengunjungi sport station (SS) di salah satu departemnt store. SS menjajakan macam-macam merk sepatu olahraga dengan berbagai jenis; mulai dari sepatu yang dikenakan pada saat main futsal, tenis, lari, bahkan menyediakan sepatu casual yang tetap punya kesan sporty, jenis sepatu terakhir adalah kesukaanku. Tetapi, karena saya sedang membutuhkan sepatu untuk lari maka, observasi saya lebih ke sepatu untuk lari, walaupun akhirnya tetap juga menegok sepatu casual yang sporty, karena ndak bisa ndak tertarik *agak tergoda untuk beli juga sebenarnya*🙂

Setelah observasi bentuk dan juga warna, pilihan jatuh pada si NIKE, modelnya simpel dan warnanya juga pas. Weh setelah lihat bandrol harganya kok mak cuiing, haaa mendekati satu juta. Wah belum pernah saya membeli sepatu seharga itu. Untuk saya, masih sayang kalau nominal sebesar itu hanya untuk sepasang sepatu (padahal pengin banget dengan sepatu itu, huue). Kembalilah saya ke bagian rak merk lain, ada yang harganya pas, namun warnanya didominasi putih, suka dengan warna itu, tetapi bukan untuk warna sepatu jadi, sayapun pindah ke beberapa rak sebelahnya. Ada juga yang diskon hingga 70%, tapi kok warnanya oranye, warna yang agak susah untuk dipadu padankan. Hmmm….mondar mandir observasi kok masih tetap suka yang NIKE, tapi masih sayang juga dengan digitnya. Jadilah saya justru memutuskan untuk tidak memembeli running shoes hari itu, masih berfikir, sayang nominal, haa.

Seminggu setelahnya, saya ke sport station lagi dan sudah memiliki gambaran mau beli sepatu yang mana, bukan NIKE karena nominalnya tinggi. Jadilah Reebok warna abu-abu yg simpel dengan sedikit kombinasi merah marun sudah ada dibayangan. Tapi ternyata, sesampainya di tempat yang dituju, sepatu yang ada dalam rencana saya sudah terjual dalam arti sudah terbeli. Hmmm, namun saya tetap membeli sepatu model-kombinasi warna yang lain karena, saya berniat lari secara teratur setelah sekian lama absen; trauma oleh suatu kejadian di daerah persawahan.

Hari itu, saya mencoba Reebok running shoes abu-abu kombinasi biru yang nomornya sesuai dengan nomor sepatu lawas milik saya yang bermerek sama. Ternyata, setelah dicoba kebesaran. Tampaknya memang, berbeda model (jenis sepatunya) juga berbeda standard ukuran. Kemudian, saya mencoba nomor yang lebih kecil, sepatu serupa berkombinasi ungu yang dipajang, hasilnya adalah ukurannya pas. Ketika saya bertanya kepada pramuniaga apakah ada nomor tersebut dengan kombinasi biru?. Maka ia segera mengecek melalui data base dikomputernya ternyata, sudah tidak ada nomor yang sama dengan yang sudah saya coba. “Sepatu yang nomor ini tinggal ini mbak, kalau mau model itu (sambil menunjuk) warna hitam dan yang model dengan warna putih itu masih ada stocknya”. Weeeh, warna yang tidak ada dalam keinginan saya. Ya sudahlah rejeki-nasib nomor kaki pasaran, jadi stock cepat habis terjual. Jadilah membeli Reebok abu-abu dengan kombinasi ungu. Lumayan, dapat unsur terpentingnya; fungsi dan kenyamanan pada saat lari terpenuhi, cukup.


Responses

  1. Saya kemarin juga merusakkan sepatu padahal baru setahun, kualitasnya jelek, dan sepertinya diimpor. Akhirnya saya membeli sepatu buatan home industry lokal, harganya jauh lebih murah, dan bahannya jauh lebih berkualitas. Hanya saja ya ndak begitu terkenal, tapi nyaman sekali dipakai.

  2. Ow ow, ya ya dengan kata lain, sepatu impor belum tentu jempolan dan produk lokal bisa jauh lebih baik kualitasnya, lebih murah pisan.
    Btw, sudah lebih murah, kualitasnya bagus dan nyaman dipakai, ini mah super !.
    Maunya setiap kali beli sesuatu dapatnya yang begini ni🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: