Oleh: Ningrum | 9 November 2013

Dibalik Songong ada Sayang

Saya kira cerita ini akan sangat membosankan, karena banyak kutipan pembicaraan, hee…

Siang tadi saya berniat merevisi tugas akhir kuliah, eh tapi malah menulis cerita untuk mengisi blog. Disela-sela aktivitas tersebut telefon berdering, kebetulan ndak muncul siapa yang telfon dan biasanya saya malas mengangkat atau menjawab penelfon yang ndak saya kenal. Eh, siang ini dalam hati bilang “Jawab saja ah”. Pertanyaan pertama saya standart, menanyakan identitas, siapa ya? namanya ndak muncul. Eh si penelfon malah jawab, ini Ningrum kan?, Ningrum kawannya Samsul? kadernya Fisman? Yang dulu cewek aktif empat sekawan? (Saya si merasanya biasa saja). Yang dulu kuliah di sana?, Pernah jadi Ketua ini-itu?, yang pernah jadi ini-itu di penerbitan kampus?.

Lah, selama dia bicara ndredet; terus-terusan, saya hanya jawab iya, iya dan betul saja. Ketika punya kesempatan bicara, saya tanya balik ke penelfon siapa sebenernya dia, garis besar jawabannya begini; Lu ndak perlu tahu siapa gue, tapi gue tahu semua tentang lu, tentang masa lalu lu, gimana dulu sepak terjang lu, siapa saja kawan-kawan lu. Kemarin baru dari Jakarta kan? Coba sebutin kawan-kawan lu yang ada di Jakarta. Hmm…apa yang gak gue tahu tentang lu? Kerena sejak dulu gue memperhatikan elu.

Nah ketika saya memunculkan satu persatu nama kawan saya dulu, coba menebak siapa yang menellfon, karena memang saya ndak bisa mengidentifikasi suaranya milik siapa. Eh, dia malah lebih tahu dari pada saya. Setiap nama yang saya munculkan, dijawabnya bukan. Malah justru dia menyebutkan jenis pekerjaan dan tempat tugas/kerja orang-orang yang tengah saya sebutkan, bahkan istri dan jumlah anak-anaknya dia tahu.

Lah semakin saya menebak siapa dia, semakin heran saya (lebih tahuan dia daripada saya), kok tahu semua tentang kawan-kawan saya, termasuk yang ada di universitas lain yang ada di Lampung. Dan tampaknya memang dia senang betul dengan kebingungan saya yang ternyata terbaca olehnya. Dia pun mengatakan hal ini “Hahaha, kenapa Ningrum? Bingung? Selamat ya dan gue sangat menikmati kebingungan itu. Lu dan kawan-kawan lu itu belum ada apa-apanya, perlu belajar 10 tahun lagi untuk bisa selevel dengan gue. Dalam hati saya bicara, songong banget ini orang. Kata dia, “Lu juga ndak pinter-pinter amat, jauh lah sama gue, buktinya lu lulus kuliah selama lima tahun kan?. Hmm…songong banget kan orang yang mengaku kawan saya ini?

Dia mengatakan bahwa dia bukan siapa-siapa, bukan kader berbagai organisasi kampus IMM, PMII, HMI, apalagi pengurus Badko HMI Sumbagsel, tidak juga sebagai Pengurus Besar HMI di Jakarta. Menurutnya, dia ada di mana-mana dan tahu semua tentang saya dan banyak hal tentang persitiwa-peristiwa di luar sana. Kata dia, nah kalau seorang aktivis harus tahu tentang banyak hal, sibuk sana-sini dan tetap menghidupkan ponsel meskipun sedang istirahat, jadi jika ditelfon tengah malam siap siaga, kata dia. Saya meresponya “Oh tidak, kalau sekarang pada saat saya sengaja untuk beristirahat malam hari, bukan tertidur, ponsel saya matikan; off, untuk meminimalisir radiasi” kata saya. Yeah dia ndak mau kalah, menurutnya, hasil riset itu ndak terbukti, jika gelombang magnetik yang ada pada telefon genggam beradiasi. “Masa’?” kata saya, saya mendapatkan info itu seminggu lalu, pada saat menonton acara tv yang kebetulan menghadirkan dokter dan ahli teknologi. Dia mengatakan bahwa sudah mengetahui hal tersebut beberapa tahun yang lalu. Deeh :I

Kemudian pembicaraan dialihkan. Kata dia, saya masih pecicilan saja seperti dulu dan katanya, dia senang dengar suara saya, masih ndak berubah. Btw, memang suara saya sebagus apa ya? Sampai dianggap menyenangkan untuk didengarkan? *heran*

Kemudian, mulai berceramahlah dia, saya menerimanya si dengan santai dan terbuka, walaupun gregetan juga karena saya ndak tahu siapa yang bicara. Ditambah yang menghubungi pun ndak mau kasih tahu identitasnya. Kata dia, cukup gue aja yang tahu tentang lu Ning, lu gak usah tahu tentang gue.

Nah kemudian jurus muji-mujinya dimainkan, kata dia, Ningrum lu tu cewek tangguh, jiwa sosial lu juga bagus dari dulu sampai sekarang, peduli sama orang lain (semoga prangsangkanya itu benar). Tapi kenapa gaak berubah?, Ningrum, berubah dong, kata dia. Dalam hal apa? saya menjawab. Karena dia tampak sungkan atau mungkin juga masih proses mikir-mikir (berfikir), jadi ndak langsung merespon atau berkata-kata dengan nderedet seperti sebelumnya. Lalu saya katakan “Berubah dalam hal prinsip? Ya kalau hal prinsip si agak susah juga untuk dirubah, kalau dalam hal lain boleh lah berubah”.

Katanya, “Nah itu dia, karena prinsip lu ndak berubah mengakibatkan lu gak berubah-berubah. Lihat dong kawan-kawan lu dah berkeluarga semua, sudah punya anak. Nah sementara lu masih gitu-gitu aja. Jangan asik dengan diri sendiri terus, jangan sendirian terus, kata dia. Soal ini jangan stagnan, move on. Jangan sibuk dengan berbagai aktivitas yang seperti dulu, sekarang sudah berbeda, ini 2013, bukan tahun 2003 lagi. Berubahlah, kata dia. Heee saya fikir saya mengerti maksud dia, dan merespon sarannnya, “Oh soal itu, ya ndak lah, gue juga ndak bermaksud seperti itu. Kalau ada yang nge-klik kenapa ndak, lha kalau belum ada yang nge-klik masa’ mau dipaksa-paksa, gimana dong?”. Yeeeh, atas jawaban saya, dia cuma memberi respon dengan tertawa ringan, “Ha ha”. Begitu banget responya, apa jangan-jangan dia salah satu pria yang rasa sukanya pernah saya tangguhkan dengan kata, “Maaf tidak sekarang, belum terfikir ” ya?.

Ketika saya tanya lagi siapa dia, tetap ndak mau menjawab, dia tetap bilang lagi saya ndak perlu tahu tentang dia. Ketika saya tanya apa maksud dia menghubungi saya? Dia menjawab hanya bermaksud bersilahturahmi, tidak kurang tidak lebih dan saya percaya ini. Kawan saya yang ndak saya ketahui ini berpesan kepada saya untuk datang jika ada acara latihan kader atau basic training, berbagi soal Islam dan Perubahan Sosial dengan adik-adik. “Ilmu itu dibagi jangan disimpan sendiri” katanya. Wah, gantian saya yang tertawa ringan, ha ha. Saya tertawa sambil berfikir, sampai segitunya dia tahu kalau saya jarang menghadiri berbagai acara seremonial ataupun latihan kader. Sebenarnya bukan ndak mau, tetapi kebetulan, seringkali waktunya ndak pas dengan kesempatan saya untuk bisa berkunjung atau berbagi seperti yang dia inginkan. Pernah juga si saya menolak karena diminta atau dihubungi secara mendadak (padahal kan materi harus dipersiapkan sedemikian rupa). Ditambah yang menghubungi saya juga mengatakan secara terus terang kalau saya menggantikan si A karena berhalangan hadir. Nah lho.

Lalu, hal lain yang dimintanya untuk dirubah adalah soal idealisme. Kira-kira begini pesannya kepada saya, “Idealis itu bagus dan dari dulu elu masuk di golongan itu” kata dia. Menurutnya, dunia sekarang, bukan lagi dunianya para aktivis, idealis itu utopis sambil menyebutkan salah satu judul buku berikut penulisnya. “Jangan terlalu idealis lah, berubah ke realis, jadi sekarang realistislah dalam bertindak” sarannya. Dan dia pun tahu saya pernah tinggal di luar Lampung untuk beberapa tahun dan lalu memilih kembali untuk ‘menemani’ keluarga. “Pilihan yang bagus” katanya.

Lalu saya masih menanyakan lagi siapa sebenarnya dia, karena memang dari suaranya saya ndak mengenal dan ndak ada kawan dekat saya yang intonasi bicaranya seperti orang tersebut. “Siapa si sebenarnya ini?” kata saya. Jawabnya dia “Lupa ya elu sama gue, maka’nya biar ndak pelupa baca qur’an surat waqiah setelah sholat subuh”.

Akhirnya pembicaraan kami pun berakhir dengan salam….
* * *
Btw, apakah saya akan menghubungi balik dia? Saya fikir tidak. Kecuali kalau dia yang menghubungi lagi. Ya, akan saya tanggapi dengan senang hati dan saya kira, saya akan menjadi pendengar yang baik atas saran-saran dari yang mengaku kawan saya tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: