Oleh: Ningrum | 19 September 2018

Sandaran, Mana Sandaran

Aktivitas terkadang merupakan hal yang menyenangkan, namun ada kalanya juga aktivitas bisa menjadi sesuatu yang melelahkan dan kejadiannya dan rasanya seperti berulang, berulang dan berulang.  Namun, apapun yang terjadi, ada dorongan dalam diri untuk tetap mensyukurinya. Memang seperti itu to perintah-Nya. Baik- buruk, menyenangkan-membosankan tetap harus diterima dan dicari-ditemukan dan disadari hikmahnya. Hal tersebut sering  saya sebut dengan mengkhidmati (mengkhitmati setiap yang disajikan oleh hidup). Jika sudah begini, apa yang ada akan mendominasi rasa, meski pada awalnya berasal dari sebuah fikir (an).

Aktivitas yang terkadang (terkadang lho ya)  dirasa menjadi sebuah rutinitas saya lalui dari senin hingga Jum’at. Kebetulan, TK Aisyiyah  menerapkan jam belajar full day, sehingga menjelang zuhur anak-anak baru dipulangkan, sedangkan pendidik meninggalkan sekolah sekitar pukul 14.00. Namun ketika ada kejadian-kejadian tertentu, misalnya harus berta’ziah, menengok rekan yang sakit, ada kegiatan tertentu pendidik bisa meninggalkan sekolah lebih awal daripada jam yang ditentukan (tentu setelah anak-anak pulang).  So far, hari ini menyenangkan sekaligus melelahkan,  patner saya dikelas sedang bahagia dan sagat menyenangkan (ada sebab sepertinya), sehingganya saya yang melihat juga ikut bahagia, hohoho.

Kejadian lain, kami bersama-sama berta’ziah ke rumah rekan lain  (masih satu sekolah) yang sedang ditimpa musibah, kandunganya mengalami keguguran. Namun sebelum ke rumah rekan, saya harus ke perpustakaan kota Metro, untuk sebuah keperluan, setelah selesai, baru meluncur ke rumah duka. Tidak terlalu lama saya pamit  duluan karena , harus membeli beberapa kebutuhan, alhamdulillah di tempat ke lima baru didapatkan apa yang dibutuhkan, tepatnya di MP One stationary yang slogan di struk belanjanya “Utamakan Sholat dan disiplin kerja”. Setelah itu saya melajukan roda dua ke kampus,  memenuhi jadwal mengajar dengan objek  pembelajar yang berbeda. Sampai di sini aktivitas diluar rumah nyaris selesai, nyaris karena sebelum pulang kerumah, saya harus mampir ke konter untuk membeli paket data yang sekaligus kartu perdana (hangus si, hihi). Sesampainya di rumah, saya baru ingat harus memberikan jadwal titipan nenek dari anak murid untuk rekannya yang masih satu lingkingan dengan rumah.  Sampai di rumah, baru sempat meletakkan ransel, harus balik badan  dan melajukan roda dua lagi; ke rumah bu Parjo dan ke Toko Budi.

Sepanjang jalan saya sudah merasa kelelahan dan munculah bisikan ingin sandaran 🙂

Dan dijalan pun saya punya cita-cita sederhana, bila sampai rumah, saya akan beristirahat sejenak karena sangat lelah. Sampai di rumah baru sempat beberes diri sebentar, ganti baju dan lainnya, tetangga depan rumah datang membawa balitanya “Mbak ningrum, Hana mau main” 😀  dan saya pun meladeninya meski hanya duduk  dengan tetap merespon segala yang dilakukan balitanya.

Alhamdulillah banget pokoe hari ini ya dan tetap pengin sandaran 😀

Hikmahnya adalah harus tetap berlapang dada  meski lelah melanda


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: