Oleh: Ningrum | 22 Desember 2013

Cantik dan Tidak Cantik

Seingat saya, ini kali kedua postingan yang membahas soal cantik. Seperti dikalimat pada postingan lalu, cantik adalah hasil produksi bahasa, sebuah definisi yang diciptakan oleh manusia yang katanya berbudaya, punya nilai-nilai etika, estetika juga selera tentunya.

Tanpa harus belajar banyak hal ataupun mendatangkan refrensi yang berderet, bahkan tanpa ada kesepakatan bersama, definisi cantik sangat mudah ditemukan, bahkan seperti memiliki standart atau ciri-ciri yang berlaku pada umumnya .

Nomong-ngomong
, dianugerahi paras cantik itu banyak untungnya, beberapa diantaranya; Pertama, minimal tepenuhinya syarat berpenampilan menarik untuk bisa jadi presenter, Public Relation, teller Bank, model, pramugari, staf marketing, sales promotion girl dan sebagainya. Hee… kata berpenampilan menarik saya fikir adalah penyamaran dari kata cantik, ya meskipun pada kenyataannya tidak semua yang cantik itu menarik, tapi cukup berlaku umum.

Kedua, cantik dapat menjadi magnet yang kuat bagi para pria. Seperti kata salah seorang partisipan di acara Mario Teguh Golden Ways episode Hari Ibu, malam ini. Sebut saja nama partisipan itu X, ia mengatakan bahwa hal pertama yang dilihat dari seorang perempuan tentu adalah fisiknya, cantik, ya sexy, tinggi, langsing dan sebagainya. Sepertinya malam itu Pak Mario butuh deskripsi yang sejelas-jelasnya mengenai seksi, hingga Pak Mario “mengejar” X dengan pertanyaan-pertanyaan. Pada akhirnya Pak Mario tak bertanya lagi dan langsung meminta contoh nyata (sosok) sesuai dengan perspektif X. Atas itu, X menghadirkan dua nama. Ternyata, keduanya merupakan publik figur yang memang memiliki bentuk tubuh yang proporsional, wajah cantik berikut kulit putihnya. Saya kira, perspektif X tersebut sudah menjadi perspektif khalayak (walapun tentu tidak salalu demikian, ada pengecualian bagi yang tidak). Hal-hal (standart) tersebut (yang diungkapkan) cukup manusiawi, sangat priawi.

Lah, lalu bagaimana nasib yang ndak cantik seperti kita?. Hah kita?, hee maaf bagi yang merasa cantik, berarti kata kita mohon diabaikan saja. Bagi yang merasa sama seperti apa yang saya rasa maka terima saja dengan terbuka apa yang ada, boleh merasa nyesek, tapi sebentar saja. Termasuk misalnya ketika ada seorang pria tampan yang mungkin “sungkan” kalau harus jalan bareng berdua (padahal aktivitasnya berjalan doang) dengan kita diruang publik. Sehingga sengaja jalan agak berjauhan atau ngacir didepan sehingga kita berada agak jauh dibelakang atau bisa juga sebaliknya. Terus, kalau misalnya juga mendengar kata-kata “Dih udah ini, itu (ini itu digunakan untuk tidak memunculkan warna kulit dan bentuk fisik) siapa yang nafsu?”. Hei “……”!! (titik titik yang asli katanya enggan saya tuliskan, tetapi artinya kurang lebih tidak cantik. Sebenarnya kata-kata atau sikap-sikap tersebut tak perlu dikemukakan atau dilakukan, karena pada dasarnya orang-orang seperti kami memiliki kesadaran terhadap keadaan fisik kami, sudah cukup tahu diri.

Kecantikan memang bisa mempengaruhi pelbagai hal, terutama karir (bagi yang kerja kantoran). Tapi bagi kita yang berada diluar lingkaran cantik, ada baiknya untuk tidak menghabiskan energi untuk memikirkan itu, karena hidup bukan hanya perkara cantik.

Tuhan sudah teramat baik, pantasnya kita bersyukur. Kita sudah diberi kesempatan hidup, dianugerahi panca indera yang komplit, dilahirkan dari seorang ibu yang berhati seluas semesta raya berikut dianugerahi ayah yang tangguh, dipertemukan dengan kawan-kawan yang menyenangkan ada juga yang mendamaikan;meneduhkan. Sudah juga diberi kesehatan serta kesejahteraan (semoga), ditunjukkan; dipertemukan dengan orang-orang yang menginspirasi, diberi kemampuan berupaya; bertahan. Lainnya, bersyukur diberi kesempatan berinteraksi secara intens dengan anak-anak yang tidak memperdulikan persoalan fisik gurunya cantik atau tidak (meski mereka juga sudah tahu yang disebut cantik itu seperti apa), bersyukur dipertemukan dengan anak-anak yang lebih mempercayakan hatinya;rasanya daripada yang bisa tertangkap oleh penglihatanya. Bersyukur untuk banyak hal…..

Bersyukur, agar kita beruntung dalam perhitungan-Nya.

Keberuntungan bagi yang tidak cantik ada juga tentu, diantaranya: cantik secara fisik bukanlah syarat: untuk bisa bermanfaat bagi orang lain; sukses; masuk surga; hidup mulia; menjadi manusia seutuhnya dan hamba sepenuhnya, tidak ada persyaratan harus cantik untuk bisa menjadi itu semua. Haha kalau sampai ada maka, tamatlah riwayat kita. Dengan demikian maka, bukankah kita masih memiliki keberuntungan?.

Sekali lagi, fisik seperti ini juga bukan buatan kita, bukan mau kita. Bagaimanapun bentuk dan warnanya ini adalah pemberian (tepatnya pinjaman;ketitipan), kita hanya tinggal menerima. Bisa jadi dengan keadaan yang seperti ini, Tuhan berkehendak melatih dan menjadikan kita manusia yang mampu berlapang dada. Sesekali, bahkan mungkin bisa jadi sering, Tuhan berkenan menjaga kita dengan menunjukkan bentuk fisik orang lain yang “unik” agar kita kembali sadar bahwa betapa masih beruntungnya kita daripada yang “unik” itu, masih alhamdulillah…..


Responses

  1. betul mbak kita harus bnyk bersyukurr

  2. Yup, tulisan yang menginspirasi

  3. cantik dan cantik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: